HANYA SETITIK PERBEDAAN
Pagi itu menyisakan sebuah tanda tanya di benakku. Bisa dibilang, sebuah acara yang mengumpulkan lautan manusia dalam satu tempat. Hati yang terpanggil oleh Sang Khaliq. Begitu ucap mereka. Kira-kira sekitar setahun yang lalu, bisa dibilang aku ada di posisi mereka. Menggemakan semangat dalam membela diin ini. Meskipun aku tidak bisa datang karena ada keperluan, namun mataku terus memantau seluruh berita tentang itu.
Setahun kemudian, tepatnya kemarin. Semua seperti pudar. Semangat itu masih ada, namun kegigihan hingga pengorbanan untuk berada di sana, sudah sirna. Dalam batinku aku bertanya,
"Sebenarnya, apakah aku sudah ada di jalan yang benar? Jalan mana yang sebenarnya Kau ridhoi? Apakah aku sebenarnya tersesat? Apakah Kau cabut hidayah-Mu dari hatiku? Mengapa aku dan mereka berbeda?"
Ah, begitulah sekelebat pertanyaan yang terlintas di pikiranku.
Melihat lautan manusia lewat media, membuat aku jadi mengernyitkan dahiku. Dulu aku bisa merinding melihatnya. Sekarang, kenapa aku jadi bingung melihat mereka?
Siapakah di sini yang salah, dan siapakah yang benar?
Bukankah kita sama-sama bersyahadat?
Bukankah kita sama-sama mengerjakan shalat 5 waktu?
Bukankah cara kita menutup aurat juga sama?
Lalu, mengapa perbedaan itu sebenarnya sangat tipis, namun memberi dampak yang besar?
Mungkinkah kita akan bersatu, saat sebuah hadist shahih jelas mengatakan bahwa diin ini akan terpecah menjadi 73 golongan?
Mungkinkah aku atau mereka berpegang teguh pada sunnah, sesuai dengan hadist yang mengatakan bila terjadi perpecahan, maka gigitlah sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam?
Sebelum aku bertanya terlalu jauh lagi, doakanlah aku, agar aku mendapat hidayah pemahaman Islam yang benar.
Yang tidak ada keraguan di dalamnya.
Yang syurga jaminannya.
Yang kuat bukti-buktinya.
Yang benar janji-Nya.
Jangan dustai aku. Kalau aku sudah berada di awal yang benar, katakanlah agar aku lanjutkan. Kalau aku salah, katakanlah agar aku mundur dan tidak tersesat terlalu jauh.
Barakallahu fiikum.
Jazakumullah khayr.
Aya.
Surabaya, 3 Desember 2018.
Setahun kemudian, tepatnya kemarin. Semua seperti pudar. Semangat itu masih ada, namun kegigihan hingga pengorbanan untuk berada di sana, sudah sirna. Dalam batinku aku bertanya,
"Sebenarnya, apakah aku sudah ada di jalan yang benar? Jalan mana yang sebenarnya Kau ridhoi? Apakah aku sebenarnya tersesat? Apakah Kau cabut hidayah-Mu dari hatiku? Mengapa aku dan mereka berbeda?"
Ah, begitulah sekelebat pertanyaan yang terlintas di pikiranku.
Melihat lautan manusia lewat media, membuat aku jadi mengernyitkan dahiku. Dulu aku bisa merinding melihatnya. Sekarang, kenapa aku jadi bingung melihat mereka?
Siapakah di sini yang salah, dan siapakah yang benar?
Bukankah kita sama-sama bersyahadat?
Bukankah kita sama-sama mengerjakan shalat 5 waktu?
Bukankah cara kita menutup aurat juga sama?
Lalu, mengapa perbedaan itu sebenarnya sangat tipis, namun memberi dampak yang besar?
Mungkinkah kita akan bersatu, saat sebuah hadist shahih jelas mengatakan bahwa diin ini akan terpecah menjadi 73 golongan?
Mungkinkah aku atau mereka berpegang teguh pada sunnah, sesuai dengan hadist yang mengatakan bila terjadi perpecahan, maka gigitlah sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam?
Sebelum aku bertanya terlalu jauh lagi, doakanlah aku, agar aku mendapat hidayah pemahaman Islam yang benar.
Yang tidak ada keraguan di dalamnya.
Yang syurga jaminannya.
Yang kuat bukti-buktinya.
Yang benar janji-Nya.
Jangan dustai aku. Kalau aku sudah berada di awal yang benar, katakanlah agar aku lanjutkan. Kalau aku salah, katakanlah agar aku mundur dan tidak tersesat terlalu jauh.
Barakallahu fiikum.
Jazakumullah khayr.
Aya.
Surabaya, 3 Desember 2018.
Comments
Post a Comment